Sayekti dan Hanafi
August 18, 2005 at 16:46
Filed under General
Tadi malam aku nonton Layar Emas Indonesia di RCTI yang berjudul “Sayekti & Hanafi.
Ceritanya cukup seru dan menarik. Tentang sepasang suami istri yang hampir kehilangan anaknya karena tidak kuat membayar biaya persalinan di rumah sakit.
Pekerjaan Hanafi hanyalah seorang tukang becak, sedangkan istrinya, Sayekti (lagi hamil tua), seorang buruh pasar.
Waktu melahirkan, kebetulan Sayekti dibawa oleh temannya ke rumah swasta. Sayekti dan bayinya pun lahir dengan selamat.
Permasalahannya timbul setelah mereka diberitahu total biaya persalinan, kamar dan perawatan sebesar 3 juta lebih.
Merekapun kelimpungan untuk mencari biaya sebesar itu.
Dan lebih parahnya lagi, Hanafi juga kena penyakit, batuk berdarah, sehingga tidak kuat bekerja.
Otomatis hanya Sayekti lah yang bekerja keras sendirian. Belum lagi pihak rumah sakit yang terus menerus menekan mereka untuk segera melunasi tanggungan mereka.
Merekapun sudah mengusahakan Surat Keterangan Tidak Mampu yang mana biaya tanggungan mereka sudah dikurangi menjadi 1 juta lebih, tapi dengan adanya surat itupun mereka masih tidak kuat membayarnya.
Kemudian ada seorang wartawan yang meliput kasus itu. Setelah kasus itu terangkat di media massa, masalah mereka bukannya terbantu tetapi malah menambah masalah baru. Ada seorang artis yang ingin mengadopsi anak mereka dan pihak rumah sakit menuduh mereka sengaja menyebarkan kasus itu untuk mencemarkan nama baik rumah sakit.
Sampai Direktur rumah sakit itu berkata
Masak hanya uang sejumlah 1 juta saja mereka tidak mampu membayarnya
Jujur saja, waktu menonton film tersebut aku hampir saja menangis, mungkin saking menghayati jalan ceritanya. ![]()
Uang sebesar 1 juta bagi orang kaya mungkin itu tidak seberapa jumlahnya, tetapi bagi seorang Hanafi dan Sayekti, uang sejumlah itu akan terasa sangat besar.
Aku juga berfikir, apakah cerita film itu benar-benar refleksi dari kenyataan ataukah hanya fiktif belaka.
Yang jelas, penokohannya sangat kuat sekali.
Agus Dwi Kuncoro yang memerankan Hanafi, sangat menguasai perannya, demikian juga Widi Mulia AB Three yang memerankan Sayekti yang harus rela mangangkut keranjang dari truk sayur.
Jadi kesannya film itu benar-benar natural, dimana background Pasar Kemiri yang kumuh juga benar-benar kelihatan nyata.
Jalan ceritanya juga sangat manis, dimana perjuangan seorang Ibu yang ingin mendapatkan anaknya walaupun dia harus memeras keringat dan membanting tulang.
Film itu juga menggambarkan seorang sosok perempuan yang tegar, lain dari cerita yang selama ini kebanyakan mengangkat sosok perempuan sebagai makhluk lemah, yang selalu bergantung kepada suaminya.
Endingnya juga manis walaupun mungkin dipaksakan, dimana akhirnya Direktur rumah sakit itu menyerahkan bayi Hanafi dan Sayekti disaat-saat anak mereka akan diadopsi tanpa memungut biaya tanggungan mereka.
Related Posts:- None
August 19th, 2005 at 07:05 Using
Emang menyedihkan tapi di kehidupan nyata ini hal seperti itu masih sering terjadi kan. Lebih menyedihkan lagi saat kita hanya bisa membaca kisah2 serupa di koran tanpa mampu berbuat apa pun utk membantunya
August 19th, 2005 at 16:42 Using
bener banget Gan……
yang lebih menyedihkan lagi, saat kita tak mampu melakukan apapun waktu liat or baca berita spt itu
August 19th, 2005 at 20:43 Using
Hihihih … ndek mBatu pas lampu mati
August 20th, 2005 at 10:25 Using
sama di pandaan juga pas lampu mati
tapi ane dah pernah lihat pelem ini , memang realita hidup itu lebih susah daripada khayalan.
is this a real life ? this is just a fantasy , caught in a landslide , no escape from reality , open your eyes look up the skies and see !
August 21st, 2005 at 23:48 Using
Duh, yang kemarin ini aku malah cuma nonton sekilas… tapi Sayekti dan Hanafi yang jaman dulu (yang main Neno Warisman) malah pernah nonton dari awal sampe akhir
Meski mungkin nggak persis sama, tapi di tiap RS di seluruh Indonesia pasti selalu ada pasien-pasien yang mengalami kesulitan yang sama dengan yang dialami Sayekti dan Hanafi, tapi sayangnya… solusi bagi kesulitan mereka yang hidup dalam dunia nyata belum tentu seindah dalam film ini.
August 24th, 2005 at 07:23 Using
Pernah baca artikel mirip di Kompas.com ?
August 24th, 2005 at 11:42 Using
#1. setuju mas gani


#6. aku udah baca, ironis sekali yah. rumah sakit didirikan tujuannya utk menolong orang sakit, tapi ini malah menolak orang sakit
August 24th, 2005 at 13:31 Using
hai yok
pa khabar
aku ajari emosikon yahoo gheee
mwah
hihihihihi
yok
kapan blogmal bukak mane?
selak kedisik an blogfam loh
btw, gesbukmu tak isi kok gak kenek yoo
why atuhh
August 26th, 2005 at 01:32 Using
ehuaheuahe… nonton layar emas bareng ah laen kali.. heuaheuahe